Upaya untuk Menekan Jumlah Angka Stunting pada Anak di Masa Pandemi

Harapan dalam menekan prevalensi stunting hingga mencapai angka 14 persen di tahun 2024 terasa lebih sulit dicapai. Kondisi tersebut nampaknya terasa begitu sukar untuk direalisasikan karena pandemi corona yang sedang terjadi pada berbagai belahan dunia, khususnya Indonesia di awal-awal tahun 2020.

Seperti yang kita ketahui bersama, penerapan physical distancing di tengah pandemi ini merupakan sebuah aturan yang harus dipatuhi dan ditaati bersama. Dengan adanya kebijakan tersebut, diharapkan pandemi ini akan segera berakhir, dan semuanya akan kembali normal seperti sedia kala.

Kembali lagi ke pembahasan kita kali ini, bahwasannya terlepas dari ada atau tidaknya pandemi ini, kita tetap tidak bisa menomorduakan penangan stunting; baik dalam mendeteksi ataupun penanganan setelahnya. Karena problematika stunting merupakan penentu utama dalam menciptakan penerus bangsa yang berkualitas.

Tetapi masalahnya, penanganan COVID-19 di masa seperti ini juga merupakan prioritas utama; agar pandemi ini segera berakhir. Selain itu, jumlah angka positif yang terkena coronavirus kini kian menaik seiring berjalannya waktu (dengan angka kesembuhan yang terus bertambah tentunya).

Dengan demikian, banyak sektor kesehatan yang awalnya menangani stunting seperti posyandu akhirnya berhenti beroperasi (sementara) dan puskesmas yang memiliki prioritas dalam melakukan pengecekan masyarakat bebas COVID-19.

Tanggapan Ahli tentang Stunting di Tengah Pandemi

Salah satu Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K), menyatakan bahwa kebijakan “di rumah saja” dan “jaga jarak fisik” menyulitkan proses pemantauan tumbuh kembang para balita, khususnya di posyandu.

Selain itu, jumlah resiko anak terkena malnutrisi kronis hingga stunting tentu saja akan meninggi jika anak tidak segera didetekesi melalui pengukuran berat badan, panjang badan, hingga lingkar kepala.

Stunting sangat lah berbahaya karena selain dapat mempengaruhi otak, nutrisi yang dibutuhkan di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) seperti protein hewani, asam amino, zat besi, maupun zinc, mempengaruhi daya tahan tubuh anak. Sehingga, kekurangan asupan nutrisi dapat menyebabkan penurunan berat badan, weight faltering (kenaikan berat badan yang tidak sesuai kurva), turunnya nafsu makan, hingga malnutrisi.

Gagalnya tumbuh kembang yang tidak sesuai dengan umur sang anak merupakan pertanda bahwa daya tahan tubuhnya telah terjadi penurunan, sehingga dia akan lebih rentan terhadap infeksi ataupun virus. Jika hal tersebut dibiarkan dalam kurun waktu yang lama, malnutri yang kronis dapat berubah menjadi stunting.

Penanganan Stunting di Masa Pandemi

Karena penanganan stunting sama pentingnya dengan penanganan COVID-19 di masa sekarang, terdapat berbagai penyesuaian strategi dalam menekan angka prevalensi stunting.

Prof. Damayanti menyebutkan, terdapat 3 kunci utama dalam menekan angka prevalensi stunting, diantaranya:

  • Memberikan asupan gizi yang baik untuk sang buah hati;
  • Memantau tumbuh kembang sang anak secara rutin agar dapat mendeteksi gejala secara dini; serta
  • Menerapkan sistem rujukan secara berjenjang jikalau anak didiagnosa mengalami malnutrisi hingga sudah stunting.

Jadi, ketika sang buah hati kurang mendapatkan asupan gizi yang baik dan terindikasi atau menunjukkan mengalami gizi buruk, kekurangan gizi, dan tumbuh kembangnya tidak sesuai dengan kurva ketika sedang diukur, anak tersebut wajib mendapatkan tata laksana malnutrisi oleh dokter di puskesmas.

Namun, jikalau ternyata anak tersebut sudah mengalami stunting, ia wajib ditangani langsung dan diberlakukan tata laksana stunting oleh Dokter Spesialis Anak.

Seperti yang disebutkan di poin kedua, kita harus selalu memantau tumbuh kembang sang anak selain harus memberikan pola asupan nutrisi yang bergizi. Bisa dengan melakukan pengukuran secara mandiri di rumah, atau pihak-pihak kader atau kesehatan yang terkait dapat melakukan pengukuran di setiap rumah yang sudah terdata di puskesmas tiap daerah.

Untuk merealisasikan hal tersebut, kalian memerlukan alat ukur antropometri guna mendeteksi stunting yang tepat, cepat, dan akurat. Bagi kalian yang memerlukan kebutuhan tersebut, Solo Abadi menyediakan produk alat ukur antropometri spesial dalam paket Antropometri Kit yang bernama Stunting Kit.

Alat Ukur Antropometri untuk Stunting

Dalam melakukan pengukuran guna mendeteksi gejala stunting, kami menyediakan berbagai alat dan paket yang sesuai dengan kalian butuhkan. Berikut merupakan berbagai paket Stunting Kit yang kami miliki:

1. Antropometri Kit SK – 92

2. Antropometri Kit SK-95

3. Antropometri Kit SK-96

4. Antropometri Kit SK-98

5. Antropometri Kit SK – 99

Antropometri Kit – SK Custom

Selain paket-paket yang sudah kami jelaskan di atas, kami juga dapat memenuhi kebutuhan alat-alat pendeteksi stunting sesuai dengan yang kalian minta. Baik dalam jenis alat, fungsi, hingga harga alat dapat kalian konsultasikan langsung dengan tim kami.

Bagaimana Cara Mendapatkan Produk Stunting Kit?

Apabila kalian tertarik untuk membeli produk paket Stunting Kit dari kami, kalian bisa berkunjung ke link berikut atau hubungi kami dengan menekan icon WhatsApp di pojok kanan bawah. Jangan ragu kalau kalian hanya ingin menanyakan harga ataupun meminta informasi yang lebih detail mengenai produk spesial kami, karena kami akan selalu melayani kalian dengan ramah.

Ayo Cegah dan Deteksi Stunting dengan TEPAT, CEPAT DAN AKURAT menggunakan Stunting Kit, Karena Cegah Stunting Itu Penting!

Facebook Comments
Bagikan!