Definisi Stunting dan Bahaya Stunting Bagi Perkembangan Anak

Malnutrisi menjadi salah satu problematika yang terjadi di negara-negara berkembang di dunia. Malnutrisi merupakan sebuah kondisi ketika kecukupan gizi yang harusnya didapatkan oleh masyarakat berada jauh di tingkat normal. Malnutrisi dapat diartikan pula dengan kekurangan gizi.

Dilansir dari sebuah penelitian oleh World Health Organization (WHO). Saat ini di dunia, hampir setengah dari semua kematian pada anak di bawah 5 disebabkan kekurangan gizi. Kekurangan gizi mengkibatkan anak-anak memiliki risiko yang lebih besar meninggal akibat infeksi.

Saat ini, dunia masih mengalami resiko malnutrisi yang sangat tinggi. Padahal, kekurangan gizi menjadi sebuah tolak ukur yang penting untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dunia. Beberapa sumber menyatakan bahwa, perkiraan kekurangan gizi anak akan membantu menentukan apakah dunia berada di jalur yang tepat untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan peningkatan gizi, dan mempromosikan pertanian berkelanjutan.

Sehingga tentu saja, apabila di dunia masih ditemukan adanya kakurangan gizi, maka berarti kemajuan suatu negara tersebut merupakan sebuah hal yang masih perlu dipertanyakan dan tentu saja ditingkatkan.

Dalam kajian yang ada, dikenal 4 jenis akibat dari malnutrisi yakni:

  1. Wasting, sebuah kondisi kekurangan berat badan pada tinggi tertentu.
  2. Stunting, sebuah kondisi kekurangan tinggi badan pada umur tertentu.
  3. Kondisi kekurangan berat badan pada umur tertentu,
  4. Kekurangan vitamin dan mineral tubuh.

Definisi Stunting dan Perkembangan Stunting di Indonesia

Pada artikel ini, kami hendak membahas mengenai salah satu akibat dari gangguan gizi yang ada dan marak terjadi di Indonesia yaitu stunting. Stunting sendiri merupakan salah satu gejala atau kondisi yang timbul diakibatkan oleh adanya kekurangan gizi pada tubuh manusia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting terjadi ketika seorang anak gagal tumbuh dengan tepat sesuai usianya. Seorang anak terhambat ketika pertumbuhannya lebih lambat dari tingkat normal, sebagaimana ditentukan oleh standar pertumbuhan anak WHO. Akibatnya, anak yang terhambat terlalu pendek untuk usianya.

Di Indonesia, stunting menjadi sebuah masalah akibat dari kekurangan gizi yang ada di Indonesia. Saat ini, Kementerian Kesehatan dan sejumlah Dinas Kesehatan menjadikan stunting menjadi salah satu kajian penting bagi bangsa Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menetapkan stunting sebagai salah satu program prioritas. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, upaya yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi stunting di Indonesia adalah dengan melakukan deteksi maupun pencegahan kepada beberapa pihak yaitu:

  1. Ibu Hamil dan Bersalin
  2. Balita
  3. Anak Usia Dini
  4. Remaja
  5. Dewasa Muda

Selain itu, stunting disebabkan oleh multi-faktor dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh Ibu Hamil maupun Balita. Stunting terjadi dari ketika anak masih terdapat dikandungan hingga ia mencapai usia 2 tahun. Selain itu, beberapa faktor yang menyebabkan stunting adalah status gizi, faktor lingkungan, faktor genetik dan lain sebagainya.

Bahaya dari Stunting pada Anak

Menurut sebuah laporan dari Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia, stunting menyebabkan tubuh lebih pendek daripada tinggi seharusnya. Selain itu, terdapat beberapa akibat dari stunting yaitu:

  1. Kekurangan gizi pada usia dini juga meningkatkan angka kematian bayi dan anak
  2. Menyebabkan mudah infeksi dan sakit
  3. Postur tubuh tidak maksimal saat dewasa
  4. Berkurangnya kemampuan kognitif

Apabila nantinya stunting semakin marak dan semakin sukar untuk disembuhkan, maka hal ini akan berdampak pada kerugian ekonomi jangka panjang bagi Indonesia. Maka dari itu, penanganan terhadap stunting menjadi suatu hal yang penting dan urgen untuk dilakukan. Salah satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan deteksi dini pada anak dan juga pengecekan secara berkala.

Melakukan Pengecekan atau Deteksi dini untuk Mencegah Stunting

Pada kondisi stunting, salah satu deteksi yang bisa dilihat adalah pertumbuhan anak yang kurang dari 85cm pada usia 2 tahun. Hal ini adalah salah satu tanda yang patut diwaspadai, sehingga diperlukan pengukuran secara berkala terhadap kondisi stunting.  Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah melakukan deteksi tersebut. Karena bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Pengukuran yang digunakan dalam mengukur stunting dinamakan dengan pengukuran antropometri. Seperti yang sebagian orang ketahui, pengukuran antropometri merupakan sebua pengukuran yang digunakan untuk mengukur dimensi tubuh manusia. Lalu mungkin timbul pertanyaan, bagaimana sebuah pengukuran antropometri dapat mempengaruhi atau membantu deteksi dini dari stunting?

Alat Ukur Untuk Mengukur Stunting

Pengukuran antropometri menjadi salah satu tolak ukur penting dalam memahami stunting karena dengan melakukan pengukuran tubuh manusia secara berkala, kita dapat menganalisis, membandingkan dan melakukan evaluasi terhadap tumbuh kembang anak.  Misalnya, pengukuran tinggi tubuh yang dilakukan setiap 6 bulan sekali akan digunakan untuk memantau apakah pertumbuhan terjadi dengan sesuai. Karena tentu saja pertumbuhan yang baik tersebut berhubungan dengan kebutuhan gizi yang didapatkan. Apakah gizi tersebut sesuai dengan kebutuhan.

Alat ukur yang digunakan dalam mendeteksi stunting sendiri salah satunya dengan menggunakan alat antropometri atau antropometri kit. Dalam antropometri kit, biasanya terdiri beberapa alat yang digunakan untuk mengukur antropometri tubuh manusia. Salah satu alat yang paling umum digunakan adalah antropometer.

Antropometer biasanya terdiri dari beberapa tabung yang digunakan secara disusun untuk mengukur bagian tubuh manusia pada bagian tubuh yang lurus. Seperti tinggi badan, tinggi bagian tubuh lain seperti tangan, kaki dan lain sebagainya. Namun, tidak hanya Antropometer, ada beberapa alat yang bisa digunakan seperti Spreading caliper dan Sliding caliper. Kedua alat ini dapat digunakan untuk mengukur secara detail bagian tubuh manusia pada bagian seperti kepala, bagian area tubuh yang berbentuk melengkung dan lain sebagainya.  

Antropometri kit yang konvensional namun biasanya hanya terdiri dari meteran maupun alat-alat sederhana. Padahal, alat antropometri seperti yang disebutkan di atas dapat mengeksplore secara lebih luas pengukuran antropometri yang dibutuhkan guna menganalisis bahaya stunting.

Itulah beberapa informasi mengenai stunting yang seringkali tidak kita pahami, saat ini, stunting masih menjadi permasalahan penting yang mengganggu tumbuh kembang anak di Indonesia. Pada artikel selanjutnya kami akan membagikan mengenai stunting dan bahaya stunting secara lebih mendetail mengenai topik ini.

Facebook Comments
Bagikan!

Tinggalkan komentar