Strategi Perusahaan Rokok Menyongsong Era Industri Baru

Penggunaan mesin rokok dalam proses produksi merupakan wujud perusahaan rokok dalam rangka menyongsong era industri baru. Peralihan masa dari era industri 3.0 menuju industri 4.0 menciptakan peluang besar dan menjanjikan bagi kreativitas atau ide-ide baru.

Industri 3.0 yang ditandai dengan otomatisasi dalam lini produksi disempurnakan dengan geliat kemunculan industri 4.0. Sebagai upaya penyempurnaan atas era industri sebelumnya, industri 4.0 memadupadankan otomatisasi dengan pertukaran data atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Internet of Things (IoT).

Ilustrasi Era Internet of Things
Ilustrasi Era Internet of Things
(Sumber gambar: pixabay.com)

Perusahaan rokok mau tidak mau harus siap menghadapi beragam tantangan jika tidak ingin gulung tikar dan tergilas oleh perubahan zaman. Era industri 3.0 yang bermula sekitar tahun 1970 disambut baik oleh perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia.

Perusahaan Rokok Harus Adaptif

Perusahaan-perusahaan rokok telah membuktikan kesanggupannya beriringan dengan kemajuan zaman. Penggunaan mesin-mesin berteknologi untuk menunjang proses produksi rokok ialah hasil aplikatif dari era industri 3.0. Keluaran atau hasil produksi dari pemanfaatan mesin-mesin rokok adalah munculnya produk rokok jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM).

Otomatisasi dalam Industri
Otomatisasi dalam Industri
(Sumber gambar: pxhere.com)

Kemunculan SKM dan SPM menunjukkan kebaruan produk dalam dunia industri rokok. Rokok jenis SKM dan SPM menjadi inovasi yang dapat menghasilkan lebih banyak keuntungan bagi perusahaan rokok. Terutama bagi perusahaan rokok yang sebelumnya hanya memproduksi rokok jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT).

ilihat dari segi biaya produksi, SKM dan SPM jelas lebih murah dibandingkan dengan biaya produksi SKT. Lantas, apakah kehadiran yang kemudian disusul dengan tingginya daya beli masyarakat terhadap rokok jenis SKM dan SPM berarti senjakala atau ancaman bisnis bagi rokok jenis SKT?  

Siasat Rokok SKT Bertahan di Pasaran

Industri rokok jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) memiliki sekian alasan untuk dipertahankan. Proses produksi rokok jenis SKT yang padat karya memiliki peran besar bagi perekonomian Indonesia. Di Indonesia, industri rokok jenis SKT mampu menyerap tenaga kerja produktif bahkan sampai di angka puluhan ribu. Meskipun penjualan SKM dan SPM menunjukkan tren kenaikan dari tahun ke tahun, hal tersebut tidak lantas mematikan penjualan rokok SKT di pasaran.

Rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT)
Rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT)
(Sumber gambar: flickr.com)

Sekian banyak perokok memilih mengonsumsi rokok jenis SKT dengan alasan-alasan sadar. Di antara alasan-alasan tersebut yaitu bahwasanya kretek merupakan warisan budaya nenek moyang. Rokok jenis SKT yang proses produksinya sebagian besar dilakukan oleh manusia menimbulkan sensasi istimewa saat dikonsumsi.

PT. Gudang Garam Tbk seperti tertulis di website resmi perusahaan (www.gudanggaramtbk.com)  menegaskan bahwasanya rokok jenis SKT merupakan produk yang populer. Hal itu membuat salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia itu terus memproduksi rokok jenis SKT. Apalagi produk rokok SKT milik PT. Gudang Garam telah melekat di hati konsumen, sehingga tidak ada kekhawatiran apabila rokok SKT tidak laku.

 Merokok Adalah Aktivitas Populer di Masyarakat
Merokok Adalah Aktivitas Populer di Masyarakat
(Sumber gambar: flickr.com)

Memanfaatkan Mesin Rokok

Menghadapi era industri 4.0, produksi rokok jenis SKT perlu menyesuaikan diri. Salah satunya ialah mendayafungsikan mesin-mesin berteknologi canggih untuk melakukan proses produksi tertentu. Sebagai contoh mesin yang dapat digunakan dalam proses produksi rokok jenis SKT adalah Mesin Light Cigarettes Slitting. Mesin Light Cigarettes Slitting berfungsi untuk memisahkan kertas ambri dengan tembakau dan cengkeh pada batang rokok yang mengalami kerusakan.

Proses menggulung rokok jenis SKT yang dikerjakan oleh tenaga manusia memiliki peluang untuk cacat atau tidak sesuai standar yang ditetapkan perusahaan. Sebagai solusinya, Solo Abadi menawarkan Mesin Light Cigarettes Slitting supaya batang-batang rokok yang mengalami kerusakan dapat ditangani dengan baik.

PT. Gudang Garam Tbk merupakan salah satu perusahaan rokok yang telah menggunakan Mesin Light Cigarettes Slitting dalam proses produksinya. Penggunaan Mesin Light Cigarettes Slitting menjadi langkah tepat bagi perusahaan dengan tingkat produktivitas tinggi. Keputusan menggunakan mesin pengupas rokok itu menghemat banyak tenaga, waktu, dan biaya apabila dibandingkan dengan mengupas batang-batang rokok yang rusak secara manual.

Mesin Light Slitting
Mesin Light Cigarettes Slitting

Kelebihan Mesin Kupas atau Sudet Rokok

Mesin Light Cigarettes Slitting memungkinkan tembakau dan cengkeh dari batang-batang rokok yang mengalami kerusakan dapat dimanfaatkan kembali. Dengan demikian, potensi kerugian yang mungkin dialami perusahaan dapat berkurang.

Kelebihan-kelebihan Mesin Light Cigarettes Slitting antara lain mampu mengupas maksimal 150 batang rokok per menit, tergolong mesin hemat daya, fleksibel sehingga mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Apabila perusahaan Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang Mesin Light Cigarettes Slitting, silakan kunjungi tautan ini.

Facebook Comments
Bagikan!

Tinggalkan komentar