Pentingnya Penggunaan Antropometri dalam Ilmu Kedokteran

Apabila sebelumnya kami telah membahas mengenai pentingnya penggunaan prinsip ergonomi dalam membuat produk massal. Bisa kita lihat bahwa pengukuran antropometri menjadi salah satu poin penting dalam hal ini. . Beberapa penerapan antropometri misalnya bisa digunakan pada ilmu arsitektur, militer bahkan ilmu kedokteran atau medis. Berbeda dengan artikel sebelumnya, kali ini kami akan membahas mengenai penggunaan antropometri dalam ilmu kedokteran 

Menurut Johann Sigismund Elsholtz, seorang ilmuan yang pernah membuat buku berjudul ‘Anthropometria’ yang berisi pembelajaran mengenai antropometri. Mengusulkan bahwa penggunaan antropometri merupakan strategi pengukuran yang berharga untuk berbagai bidang seperti praktik medis, fisiognomi, seni, dan ethnic. Hal ini yang melatarbelakangi tulisan ini, di mana kami ingin mengangkat kegunaan antropometri dalam ilmu kedokteran.

Kali ini, kami akan membahas bersama mengenai penerapan antropometri dalam ilmu kedokteran. Namun, masih ingatkan dengan apa itu antropometri dan fungsi dari antropometri itu sendiri? Pertama, antropometri merupakan sebuah ilmu yang digunakan untuk mengukur dimensi tubuh manusia. Dimensi tubuh manusia diukur sedemikian rupa untuk menciptakan suatu alat yang digunakan untuk membantu aktivitas manusia tersebut. Sehingga, dalam hal ini, terjadilah sebuah fungsi ergonomis yang tercipta.

Bagaimana hubungan antara Ilmu Kedokteran dan Antropometri?

Sebelum masuk kedalam hubungan antara ilmu kedokteran dan antropometri. Maka sebelumnya, lebih baik kita belajar terlebih dahulu mengenai ilmu kedokteran. Ilmu kedokteran mencakup banyak mata pelajaran yang mencoba menjelaskan bagaimana tubuh manusia bekerja. Dimulai dengan biologi dasar yang dibagi kedalam ilmu anatomi, fisiologi dan patologi dengan beberapa biokimia, mikrobiologi, biologi molekuler dan genetika.

Pengetahuan  dasar kedokteran mencakup mengenai tentang bagaimana fungsi tubuh bekerja. Dalam hal ini misalnya, untuk dapat mendiagnosis sebuah penyakit, seorang dokter atau peneliti terlebih dahulu perlu memahami bagaimana fungsi tubuh yang bugar dan sehat, dan bagaimana bentuk tubuh yang sehat dan sesuai dengan ukuran yang seharusnya.

Dari sedikit penjelasan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu kedokteran berhubungan erat pula dengan bentuk tubuh manusia. Bentuk tubuh manusia tersebut tentu saja bisa diukur menggunakan konsep antropometri.

Pentingnya Antropometri dalam Ilmu Kedokteran

Dalam sebuah jurnal berjudul Peran Antropometri Kraniofasial dalam Ilmu Kedokteran yang ditulis oleh Shah dan Koirala, sistem klasifikasi rasial pertama yang diketahui adalah dibuat pada abad ke-17 ketika seorang dokter Perancis bernama Francosis Bernier membagi ras manusia berdasarkan pada penampilan wajah dan tipe tubuh. Sehingga ilmu mengenai antropometri dalam bidang medis sudah sangat kuno.

Salah satu penelitian kedokteran melalui pengukuran antropometri adalah ketika antropolog forensik mengukur 90 tengkorak mereka dapat dengan tepat menetapkan benua asal pemiliknya. Hal ini karena data antropometri yang didapatkan kemudian diolah dan diambil sebuah kesimpulan. Kadar ketepatannya bisa sampai 80%. Selain itu, pengukuran wajah manusia dari gambar wajah 3D dapat membantu mendiagnosis pasien dengan Alkohol Spectrum Disorders (FASD), bahkan di seluruh populasi yang berbeda secara etnis.

    Ilustrasi pengukuran kepala dengan 3 dimensi

Selain itu, dikenal pula salah satu istilah ‘Antropometri kranofasial’ dalam dunia medis. Antropometri kranofasial dikenal dengan sebuah teknik yang digunakan dalam antropometri fisik yang terdiri dari pengukuran sistematis dari tulang tengkorak manusia secara tepat. Hal ini diaplikasikan kesejumlah bidang penting dalam dunia Kedokteran, Bedah Plastik, Ortodontik, Arkeologi dan identifikasi ras maupun suku seseorang.

Dimensi tubuh dipengaruhi oleh ekologi, biologis, geografis, ras, jenis kelamin, dan usia. Antropometri telah menjadi alat penting dalam studi kondisi genetik, terutama sebagai bantuan diagnostik untuk ahli genetika klinis.

Namun, masih banyak dokter praktik yang tidak melakukan antropometri pasien karena beberapa alasan, seperti:

1. Pengukuran yang tepat dalam situasi tertentu tidak diketahui

2.Data referensi normatif tidak tersedia atau analisis dan interpretasi data yang membingungkan

Data antropometrik normatif biasanya digunakan dalam evaluasi dan diagnosis sebuah penyakit. Dalam hal ini, pengembangan lebih lanjut dari pendekatan multivariant akan meningkatkan penerapan antropometri sebagai sarana mengidentifikasi dan mengklasifikasikan sindrom dan mendokumentasikan sejarah alami banyak gangguan.

Kerja sama yang berkelanjutan antara dokter, ahli genetika, dan antropolog untuk pengumpulan dan penilaian pasien dan data normatif sangat penting jika tujuan ini ingin direalisasikan.

Penerapan antropometri saat ini hanya digunakan oleh ahli medis yang benar-benar hendak mempelajari mengenai sebuah kondisi genetik yang ingin diteliti. Padahal sebenarnya, setiap dokter seharusnya diharapkan mengerti mengenai pentingnya pengukuran dimensi tubuh manusia tersebut.

Beberapa hal di atas adalah penjelasan mengapa antropometri merupakan sebuah kajian yang penting dalam dunia medis. Hal ini bukanlah suatu kondisi yang baru saja terjadi. Akan tetapi, bahkan sejak antropometri ditemukan, kepentingan medis menjadi salah satu hal yang digunakan dalam penerapan ilmu ini.

Facebook Comments
Bagikan!

Tinggalkan komentar