5 Contoh Laporan Praktikum Fisiologi Kerja Yang Baik dan Terstruktur!

Praktikum Fisiologi Kerja tidak hanya mengukur respons tubuh terhadap aktivitas fisik, tetapi juga menilai kecocokan postur kerja, termasuk bagaimana tubuh bekerja dalam posisi duduk.

laporan praktikum fisiologi kerja
Sumber Dokumen pribadi

Di sinilah kursi antropometri berperan penting dalam pengukuran:

  • Tinggi duduk popliteal
  • Panjang tungkai
  • Sudut lutut dan pinggul
  • Tinggi siku duduk
  • Backrest ergonomi
  • Jangkauan lengan saat duduk
  • Postur optimal untuk mencegah kelelahan

Beberapa laporan praktikum berikut diarahkan agar mahasiswa memahami hubungan postur duduk, fisiologi kerja, dan beban fisik menggunakan alat antropometri kursi.

5 Contoh Laporan Praktikum Fisiologi Kerja

Contoh 1 – “Analisis Postur Duduk dan Denyut Jantung Menggunakan Alat Antropometri Kursi”

1. Tujuan

Mengetahui pengaruh postur duduk yang benar dan salah terhadap denyut jantung menggunakan alat anatropometri kursi.

2. Dasar Teori

Postur duduk yang tidak sesuai ukuran tubuh dapat meningkatkan ketegangan otot, memicu kelelahan dan meningkatkan kerja sistem kardiovaskular

3. Alat dan Bahan

  • Alat antropometri kursi
  • Pulse oximeter
  • Stopwatch

4. Prosedur

  1. Mengatur tinggi duduk menggunakan antropometri kursi agar sesuai ukuran popliteal subjek
  2. Subjek duduk dengan postur benar selama 5 menit, denyut jantung dicatat
  3. Subjek duduk dengan postur salah (pahan menggantung/ terlalu rendah) selama 5 menit, denyut jantung dicatat.

5. Hasil

  • Postur benar: 76 bpm
  • Postur salah: 89 bpm

6. Pembahasan

Denyut jantung lebih tinggi pada postur salha karena otot bekerja lebih keras untuk stabilisasi tubuh.

7. Kesimpulan

Pengaturan kursi berbasiss antropometri dapat mengurangi beban fisiologis selama duduk.

Contoh 2 – “Pengukuran Sudut Lutut dan Kenyamanan Kerja Menggunakan Alat Antropometri Kursi”

1. Tujuan

Menilai kenyamanan kerja berdasarkan sudut lutut 90°, 100°, dan 120° menggunakan antropometri kursi.

2. Dasar Teori

Sudut lutut ideal 90-100° membuat distribusi beban tubuh lebih seimbang sehingga mengurangi ketegangan otot paha dan betis.

3. Alat dan Bahan

  • Antropometri kursi
  • Goniometer
  • Kuesioner kenyamanan kerja

4. Prosedur

  1. Mengatur sudut lutut pada kursi menjadi 90°, 100°, dan 120°.
  2. Subjek duduk 3 menit pada setiap pengaturan.
  3. Tingkat kenyamanan diukur menggunakan skala 1–5.

5. Hasil

Sudut LututKenyamanan
90°4.5
100°5
120°3

    6. Pembahasan

    Sudut 100° paling nyaman karena mendukung relaksasi otot paha dan aliran darah optimal.

    7. Kesimpulan

    Pengaturan antropometri kursi snagat menentukan kenyamanan kerja sama duduk.

    Contoh 3 – “Kelelahan Otot Punggung pada Kursi dengan Tinggi Sandaran Berbeda”

    1. Tujuan

    Mengetahui pengaruh tinggi sandaran (backrest) terhadap kelelahan otot punggung.

    2. Dasar Teori

    Backrest yang sesuai antropometri dapat mengurangi beban otot punggung bawah hingga 40%.

    3. Alat dan Bahan

    • Antropomrtri kursi
    • EMG Sederhana / aplikasi deteksi ketegangan otot
    • Stopwatch

    4. Prosedur

    1. Mengatur ketinggian sandaran menjadi pendek (40cm), sedang (50cm), dan tinggi (60cm).
    2. Subjek duduk dan mengetik 5 menit pada setiap kondisi
    3. Ketengangan otot dicatat.

    5. Hasil

    Backrest paling tinggi menunjukkan ketengangan otot paling rendah

    6. Pembahasan

    Sandaran tinggi mendukung tulang belakang lebih baik sehingga mengurangi kerja otot erector spinae.

    7. Kesimpulan

    Kursi Antropometri membantu menemukan tinggi sandaran optial untuk encegah kelelahan.

    Contoh 4 – “Analisis Tinggi Siku Duduk untuk Menentukan Tinggi Meja Kerja”

    1. Tujuan

    Menentukan tinggi mej kerja yang sesuai berdasarkan pengukuran tinggi siku duduk melalui antropometri kursi

    2. Dasar Teori

    Kesesuaian tinggi meja dan kursi menurunkan risiko cedera bahu dan pergelangan tangan.

    3. Alat dan Bahan

    • Antropometri kursi
    • Meteran
    • Meja adjustable

    4. Prosedur

    1. Mengukur tinggi siku duduk subjek menggunakan antropometri kursi.
    2. Mengatur meja pada tinggi: siku sejajar, 10 cm di atas, 10 cm di bawah.
    3. Subjek mengetik 3 menit pada setiap kondisi.

    5. Hasil

    Postur terbaik terjadi ketika meja sejajar dengan tinggi siku (kecepatan mengetik tertinggi + ketegangan otot terendah).

    6. Pembahasan

    Meja yang terlalu tinggi menambah kerja otot bahu, sedangkan meja terlalu rendah membuat punggung membungkuk.

    7. Kesimpulan

    Tinggi meja harus disesuaikan dengan tinggi siku duduk yang diukur melalui antropometri kursi.

    Contoh 5 – “Hubungan Tinggi Duduk Popliteal dengan Risiko Kaki Kesemutan”

    1. Tujuan

    Mengetahui apakah ketidaksesuaian tinggi duduk popliteal meningkatkan risiko parestesia (kesemutan).

    2. Dasar Teori

    • Jika kursi terlalu tinggi: aliran darah terhambat di bagian belakang lutut
    • Jika terlalu rendah: sudut kutut terlalu tajam dan ketegangan otot meningkat

    3. Alat dan Bahan

    • Antropometri kursi
    • Formulir pengukuran popliteal height
    • Kuesioner sensasi kesemutan

    4. Prosedur

    1. Mengukur tinggi popliteal subjek
    2. Mengatur kursi 3 kondisi: sesuai, 5cm lebih tinggi, 5cm lebih rendah.
    3. Subjek duduk 5 menit per kondisi
    4. Mencatat frekuensi kesemutan.

    5. Hasil

    Frekuensi kesemutan paling tinggi pada kursi +5 cm dari tinggi popliteal.

    6. Pembahasan

    Kursi yang terlalu tinggi menekan lipatan lutut → mengurangi aliran darah → memicu parestesia.

    7. Kesimpulan

    Pengaturan kursi berdasarkan antropometri sangat penting untuk mencegah gangguan sirkulasi saat duduk.

    Dengan berbagai pembahasan di atas, bisa kita lihat bahwa keberhasilan praktikum fisiologi kerja sangat bergantung pada alat ukut yang tepat. Penggunaan kursi yang tidak sesuai ukuran tubuh bisa menimbulkan hasil yang bias, bahkan berdampak pada kenyamanan dan keselamatan subjek praktikum.

    Inilah yang mendorong banyak intitusi untuk mulai menggunakan kursi antropometri standar, seperti produk dari PT Solo Abadi Indonesia, yang memang dirancang untuk mengakomondasi kebutuhan pengukuran ergonomi secara akurat dan efisien.

    Keunggulan Produk Kursi Antropometri dari PT Solo Abadi Indonesia

    PT Solo Abadi Indonesia membangun alat ini dengan material yang kokoh, kontruksi stabil, serta mekanisme pengaturan yang halus sehingga nyaman digunakan berulang kali. Selain itu, setiap komponennya dirancang agar mudah disesuaikan dengan karakter tubu subjek, baik mahasiswa maupun partisipasi penelitian lainnya. Hasil akhirnya adalah pengalaman praktikum yang lebih profesional dan data yang lebih konsisten. Tidak mengherankan jika banyak perguruan tinggi mulai mengintegrasikan kursi antropometri ini sebagai bagian dari standar laboratorium mereka.

    Siap Membantu Pengadaan untuk Laboratorium dan Institusi

    Bagi institusi yang ingin meningkatkan kualitas pengajaran ergonomi dan fisiologi kerja, penggunaan Kursi Antropometri PT Solo Abadi Indonesia dapat menjadi langkah awal yang strategis. Hubungi kami melalui WhatsApp untuk langsung konsultasikan lebih detail informasinya bersama tim kami.

    Produk ini tersedia dalam berbagai paket pengadaan sesuai kebutuhan laboratorium pendidikan, penelitian, maupun pelatihan ergonomi. Anda dapat berkonsultasi mengenai fitur, harga, maupun ketersediaan produk untuk memastikan alat yang dipilih benar-benar sesuai kebutuhan institusi.

    Facebook Comments
    Bagikan!
    WeCreativez WhatsApp Support
    Tim dukungan pelanggan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanya kami apa saja!
    👋 Hallo, Ada yang bisa saya bantu?